Minggu, 16 Maret 2008

BINTANG SEBAGAI PELEMPAR SETAN?

Lidah Api untuk Melempar Setan

Dari berbagai pendapat di atas paling tidak terdapat tiga pendapat bahwa ada yang mengatakan bahwa bintang sebagai pelempar setan bukanlah bintang dalam arti fisik. Ada yang menafsirkannya sebagai sinar kosmis sebagaimana yang dihasilkan pecahan bintang (supernova) dan juga dihasilkan oleh pancaran sinar matahari, ada juga yang memahaminya sebagai meteor dan ada pula yang memahaminya sebagai lidah api (solar flare).
Dengan demikian tidak ada ulama Islam yang mengetahui astronomi yang memahami bintang sebagai pelempat setan , tetapi mereka memahami sebagai bagian dari bintang, entah itu meteor, kosmis, atau pun lidah api. Kembali kepada ayat yang kita kaji pada bagian ini dimana “bintang sebagai pelempar setan” yang mana dalam Al Quran Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala." (QS: Al Mulk: 5).

Jelaslah ayat ini akan sangat “membingungkan dan mengejutkan” ilmuwan astronomi non Muslim, khususnya dikaitkan bintang diciptakan sebagai pelempar setan. Sebagai pelempar bagi setan (dalam syarh). Apakah ada penjelasan yang rasional, jika alat pelempar setan itu adalah serupa bintang. Dan bukankah menurut astronomi bahwa bintang itu benda langit yang besar dan menyerupai matahari.
Selain itu jika kita membaca buku DR. Maurice Bucaile juga mengutip surah tersebut, dan ia menambahkan penjelasan dengan mengutip QS Ash Shaffat ayat ke-7 yang berbunyi:

“Dan telah memeliharanya dari tiap-tiap setan yang sangat durhaka (QS Ash Shaffaat [37] :7)”

DR. Maurice Bucaile (dikaitkan dengan ayat di atas), ia mengatakan bahwa “kita merasa telah beralih kepada bidang lain (bukan bidang sains modern) kata “memelihara” juga terdapat dalam Surah Al Anbiyaa’ ayat 32 dan Surah Fush Shilat ayat 12. Bucaile sendiri tidak “berani” menafsirkan apa yang dimaksud pada Quran Surah 37:7 tersebut.
Lalu apakah yang ada dalam benak pembaca bila membaca QS 67:5 di atas. Tentunya kita juga memasuki wilayah (domain) lain dari pengertian bintang pada umumnya yang kita kenal khususnya untuk dapat memahami pengetian “bintang sebagai pelempar setan”.
Menurut Qatadah, sebagai murid sahabat Rasul SAW yang diriwayatkan oleh Al Bukhari bahwa Allah tidak menciptakan bintang kecuali untuk tiga hal yaitu: 1) sebagai hiasan langit, 2) alat pelempar setan, dan 3) sebagai rambu-rambu lalu lintas. Dalam Al Quran, Allah juga berfirmana, bahwa Allah telah menciptakan bintang-bintang sebagai petunjuk lalu-lintas.
“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itu mereka mendapat petunjuk” (QS 16 [An Nahl]:16).

Allah SWT sendiri telah menyatakan bahwa bintang-bintang adalah dapat menjadi petunjuk arah baik di laut maupun di darat, kegiatan lalu lintas, karena bintang-bintang seperti bintang pari dan sebagainya dapat menujukkan arah mata angin.
Apakah Sinar kosmis 1) itu? Sinar komis sebagian besar terdiri atas proton, partikel-partikel alfa (2 proton dan 2 neutron menyatu; atau dengan kata lain berupa inti helium), atau cahaya dengan beraneka frekuensi. Partikel-partikel ini mengeluarkan spektrum energi yang lebar dan menghantam bumi dari segala arah, datang dengan kecepatan kasar satu partikel per detik. (masalah asal usul sinar kosmis telah penulis bahas pada bagian lain pada buku ini).
Terungkap, Asal-Muasal Sinar Kosmis
Gambar: Chandra X-Ray Observatory
Untuk memahmi apakah sinar kosmis itu, maka marilah kita baca penemua terbaru berikut. Bahwa suatu petunjuk baru mengenai darimana sinar kosmis, partikel energi-tinggi misterus yang membombardir Bumi, berasal telah diungkapkan oleh observatorium sinar X Chandra milik NASA. Suatu citra yang sangat detail dari sisa sebuah bintang yang meledak telah memberikan pencerahan bagi para astronom mengenai pembentukan sinar kosmis.
Untuk pertama kalinya, para astronom berhasil memetakan tingkat akselerasi elektron sinar kosmis yang berasal dari sisa sebuah supernova (masalah supernova lihat pada bab sebelumnya).

Peta tersebut dibuat berdasarkan citra dari Cassiopeia A, sisa dari ledakan yang menandai akhir riwayat sebuah bintang masif, 325 tahun lalu, yang juga dikenal sebagai supernova paling muda di galaksi Bimasakti. Peta itu menunjukkan bahwa elektron berakselerasi mendekati tingkatan maksimum secara teoritis. Penemuan ini menyediakan bukti kuat bahwa sisa sebuah supernova merupakan lokasi kunci dari partikel bermuatan berenergi tinggi.
Sebagaimana terlihat pada gambar diatas, bagian berwarna biru di gambar tersebut menandai tempat dimana akselerasi terjadi dalam suatu gelombang kejut yang menyebar akibat ledakan supernova. Bagian berwarna merah dan hijau adalah material yang tersisa dari bintang yang meledak yang memanas hingga jutaan derajat.
“Teori yang dianut sejak tahun 1960-an menyatakan bahwa sinar kosmis seharusnya muncul dari kekacauan medan magnet pada gelombang kejut, namun disini kita dapat mengamati secara langsung bagaimana hal ini terjadi,” jelas Michael Stage dari University of Massachussets, Amherst. “Menjelaskan darimana asal sinar kosmis dapat membantu untuk memahami fenomena misterius lainnya dalam semesta energi-tinggi”.
Dalam analisis terhadap sejumlah besar data, tim peneliti berhasil memisahkan sinar X yang muncul dari elektron yang berakselerasi yang berasal dari sisa-sisa sebuah bintang yang memanas.
Data yang didapat menunjukkan bahwa sebagian dari elektron telah berakselerasi dalam tingkatan maksimum yang diprediksi oleh teori. Sinar kosmis tersusun atas elektron, proton, dan ion, dimana hanya pendar dari elektron yang dapat dideteksi dalam bentuk sinar X. Proton dan ion, yang merupakan bagian terbesar dari sinar kosmis diperkirakan memiliki sifat yang sama dengan elektron.
Penemuan ini tidak hanya dapat membantu kita memahami bagaimana sinar kosmis berakselerasi, tapi juga bagaimana sisa-sisa supernova berevolusi. Seiring dengan meningkatnya sinar kosmis dibelakang gelombang kejut, medan magnet dibelakangnya berubah mengikuti sifat gelombang kejut itu sendiri. Dengan meneliti kondisi pada gelombang kejut, para astronom dapat menelusuri perubahan yang terjadi pada sisa supernova seiring berjalannya waktu, dan memberi pemahaman yang lebih baik mengenai ledakan supernova itu sendiri. (chandra.harvard.edu) (sumber http://ias.dhani.org/)
Artinya walaupun pada Al Quran surah Al Mulk ayat 5 menyebutkan kata-kata bintang, dapat saja justru yang dimaksudkan adalah pecahan bintang yang berubah menjadi sinar kosmis. tersebut?
Matahari adalah sejenis bintang, maka matahari adalah sumber utama sinar kosmis, banyak partikel sinar kosmis berenergi lebih tinggi yang diamati ternyata berasal dari proses-proses yang lebih berenergi daripada yang bisa dikumpulkan Matahari. Sinar kosmis sendiri sebenarnya tidak terlihat dengan mata telanjang, dan pengaruhnya terhadap materi terlalu kecil untuk dilihat. Pada bagian lain Al Quran juga menegaskan dalam Surah Al Jin (Jin) ayat 8-10, berikut.
“Dan sesungguhnya kami (para Jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api; dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya); Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya); Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka”

Ayat ini sangat menarik untuk dicermati karena menceritakan masalah alam ghaib yaitu alam Jin. Ayat ini juga berkaitan erat dengan ayat dalam QS Ash Shaffaat, 37:7 yang telah disampaikan oleh Bucaile di atas. Yang jelas setelah Al Quran diturunkan, maka sebagian bangsa Jin telah beriman kepada Nabi Muhammad SAW (sebab bangsa Jin mengakui Nabi Muhammad sebagai Rasulnya ini dikenal sebagai Jin Islam) dan ada juga yang tidak mengakui kerasulan Muhammad mereka ini disebut jin kafir seperti jin Ifrit dan sebagainya. Perhatikan ayat berikut.
“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan”. (QS Al Jin 72:1).

Berdasarkan ayat-ayat di atas, tahulah kita sebab menurut pengakuan para jin bahwa setelah Al Quran di turunkan, mereka para jin tidak dapat lagi terbang mengintari langit dengan suka hati untuk mendengar berita-beritanya. Hal disebabkan mereka akan di panah api. Mereka (para jin) itu juga bertanya-tanya mengapa mereka di panah? apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.
Ayat-ayat di atas telah menceritakan kepada kita hal-hal yang gaib yang tidak diceritakan di dalam Taurat apalagi dalam Injil Perjanjian Baru. Hal itulah menandakan bahwa Al Quran itu lengkap dan sempurna dan merupakan mukjizat dari Allah untuk umat Muhammad SAW.

Sempurna dalam arti bahwa Al Quran tidak saja menjelaskan masalah-masalah yang nyata (lahiriah) dan dunia fisik kasat mata (fisika) tetapi Al Quran juga menjelaskan hal-hal yang gaib (metafisika) yaitu dunia Jin, yang selama ini menjadi misteri bagi manusia, lebih lengkapnya dapat pembaca buka Al Quran pada surat Al Jin tersebut. Untuk menegaskan bahwa yang dimaksud itu bukan bintang dalam arti sebenarnya. Untuk perlu kita renungkan pula firman Allah SWT dalam Al Quran Surah [15] Al Hijr: 16-18), yakni:
“Dan sesungguhnya Kami Allah telah menciptakan gugusan bintang-bintang (galaksi) (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandangnya. Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan (setan) yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat)) lalu dia (setan) dikejar oleh semburan api yang terang”

Jadi dapat saja kita pahami bahwa bintang dimaksud dalam ayat Al Mulk adalah sejenis “cahaya api” atau sesuatu benda yang menyerupai “sinar sangat dahsyat dan panas” . Yang dipanashkan/ditembakkan secepat misil (peluru kendali) pencari panas, sebagaimana dijelaskan Rasul SAW dalam sebuah hadisnya.
Dengan demikian “bintang” itu sisa saja ia sejenis sinar kosmis atau sejenis lidah api yang sangat panas. Jelaslah menurut hemat penulis bahwa bintang dimaksud bukan meteor sebagaimana pendapat sebagian umat Muslim selama ini, dan bukankah sinar kosmis ada yang berasal pecahan bintang pula.
Dan kalau kemudian menjadi sejenis “panah api” sinar kosmis itu menjadi senjata untuk menembak/memanah Jin kafir atau setan/setan dan (tentu yang dimaksud disini setan beserta para pengikutnya para Jin Ifrit misalnya).
Dalam hal ini, kita juga sedang berada di luar ilmu Astronomi atau fisika tetapi kita memasuki dunia metafisika sebagaimana yang dikatakan Bucaile. Untuk itu perhatikan ayat Al Quran pada Surat [15] Al Hijr dari ayat 16 sampai 18, di atas.
Dan dikaitkan dengan Surah Al Jin (Jin) ayat 8-10. Diatas, maka penulis lebih cenderung kepada penafsiran bahwa “bintang” yang dipanahkan atau dilemparkan kepada setan itu adalah sejenis lidah api yang sangat panas (hal ini kita bayangkan jika panas inti matahari mencapai 15 juta derajat celcius), maka lidah api atau solar flare, sepeti pendapat Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc. Apalagi setelah diketahui atau terungkapnya asal usul sinar kosmis dan banyaknya sinar kosmis yang menembus bumi yang tidak berpengaruh apa-apa terhadap manusia apalagi setan.
Lalu kita bertanya bukankah stan itu terbuat dari api, apalah artinya panas api bagi mereka. Tetapi kita jangan lupa walaupun mereka terbuat dari api tetapi dengan kekuasaan Allah mereka dapat terbakar, sebab unsur api almarif yang terdapat pada setan tidaklah sama dengan unsur api yang berasal dari bintang maupun matahari. Itu sama halnya juga pertanyaan yang dilontarkan oleh sebagian orang apakah setan menderita jika dimasukkan ke dalam neraka bukankan setan terbuat dari api juga. Lantas kita sendiri yang terbuat dari tanah sanggup jika ditimbun didalam tanah tanpa bernapas?
Dengan demikian lontara lidah api yang berasal dari bintang yang bagaikan sebuah katapel maha raksasa akan meluluh lantakkan setan dan jin ifrit (Jin Kafir) yang coba-coba melintas ke angkasa luar untuk mencuri dengar berita-berita langit.
Rasul SAW menggambarkan/mengibaratkan hal ini seperti sjenis peluru kendali yang secara dahsyat mengejar setan. Kalau zaman sekarang kita ibaratkan sebuah rudal (misile) yang mengejar panas, jadi kemana pun setan dan Jin Igrit lari, maka tembakan/panah api itu tidak pernah melesat dipanah oleh para Malaikat penjaga langit. Dengan demikian walauun setan itu berwujud gaib, tetapi dengan ilmu Allah yang melalui para Malaikat-Nya yang juga gaib sangatlah mudah bagi Allah dan para tentaranya (Malaikat) untuk memusnahkan Setan dan para Jin Ifrit yang coba-coba melalang buana terbang ke angksa (l;angit) untuk mencoba mencuri berita-berita (wahyu) Allah di langit yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW (wallahu alam).

1) Arthur W. Wiggins dan Charles M. Wynns, Lima Masalah Terbesar Sains yang Belum Terpecahkan, Pakar Raya, Bandung, 2004. Halaman 17.
Apakah benar yang dimaksud bintang sebeagai pelempar setan itu adalah sinar kosmis, atau lidah api yang dahsyat? semuanya kita serahkan kepada Allah Yang Maha Mengetahui maksud ayat tersebut sebenarnya Dengan demikian, jawaban untuk Surah Al Mulk ayat 5 yang menyatakan bintang sebagai pelempar setan, hanya dapat ditafsirkan dengan ayat A Quran dan Hadis. Khususnya Surah Al Jin [72] ayat 8-10, berikut.
“Dan sesungguhnya kami (para Jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api; dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya); Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya); Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka”

2 komentar:

math mania mengatakan...

Jika kedua ayat dihubungkan, bintang = panah api?, merujuk ke surat almulk ayat 5 lagi, apakah panah api yg menghiasi langit?

Solitude mengatakan...

As-Salam ke atas kamu.
Salam dari Malaysia.

Panah Api yang disebutkan adalah petir/halilintar.

Mahu atau tidak percaya.Awan terjadi bukan kerana kejadian di dalam bumi semata-mata.Ianya terbentuk hasil daripada campur tangan Cosmic Ray.Begitu juga cuaca dan halilintar.

Pada waktu dahulu,para nihilis mengatakan halilintar dibentuk ringkas oleh awan.Halilintar mengeluarkan 100 juta volts kesan daripada awan yang menyerupai bateri yang telah lama dicas.Malang sekali,pendapat ringkas dan bodoh itu telah dibuktikan salah apabila berdekad lamanya roket,kapal terbang penyukat hanya menyukat 150,000 volts sahaja paling tinggi berada di dalam awan.Dan lagi, awan tidak mengandungi electrical fields yang besar untuk menempatkan tenaga sebanyak itu.

Pada zaman sekarang saintis terpegun kerana mendapati di dalam halilintar terdapatnya sinaran X-ray dan cosmic ray.Teropong Nasa juga mendapati terdapatnya cosmic ray pada permukaan bumi berombak-ombak diatas dari penglihatan angkasa.Apakah itu?ITULAH COSMIC RAY.

Mana datangnya kosmik ray??Cosmic ray terhasil daripada supernova.Apakah supernova?Supernova adalah bintang yang meletup dan terpecah.Lantaran terpecah,batu-batu itu TERLEMPAR hancur dan bergabung dgn tenaga electron-electron yang ada.Ianya ditahan Allah dengan membendung tenaga tersebut oleh satu medan magnetik sehingga satu qadar ukuran datang untuk melepaskan tenaga tersebut terbang ke lapisan langit bumi!

Apabila datangnya cosmic ray,maka petir/kilat pun terhasil.Itu adalah cemeti dan panah api yang dikatakan.Setiap pokok rentung dan terbakar jika mengenainya.

Sekarang.Bukankah Al-Quran itu benar?? Sama sekali tiada manusia menyangka batu supernova menghasilkan tenaga kilat?!?